Broadcast lah pesan yang baik, atau diam !!

blog1

β€œGunung Bromo SIAGA 1, Gunung Semeru SIAGA 3, Gunung Kelud telah meletus dahsyat. Perkiraan radius 30KM WIL BLITAR, MALANG, KEDIRI, JEMBER, PROBOLINGGO, SITUBONDO, PASURUAN mengantisipasi bencana erupsi TERBESAR SE-JATIM. Demi kemanusiaan, infokan pada teman2 terdekat di wilayah kota manapun berada. BY: PVMBG PROP.JATIM”

Pesan tersebut mampir di telepon genggam Nadia sehari setelah peristiwa letusan Gunung Kelud terjadi kurang lebih setahun silam. Sontak gadis 22 tahun ini panik. Dia menununjukkan pesan tersebut kepada teman seruangannya di kantor.

Maklum, kampung halamannya berada di Malang, tak jauh dari lokasi Gunung Kelud. Sebagai informasi, Malang diapit oleh tiga gunung yang disebutkan dalam pesan tersebut di atas. Ketika Nadia sedang mencoba menenangkan diri, teman seruangannya menunjukkan beberapa artikel dari sebuah situs berita yang menyebutkan bahwa pesan tersebut hoax atau palsu. Nadia pun mengklarifikasi info tersebut kepada pengirimnya. Jawabannya klise, hanya meneruskan info yang didapat, katanya.

Kejadian serupa pernah terjadi kepada Shinta dan Citra. Dua sahabat sejak kuliah di Bandung ini ingin reuni setelah sama-sama bekerja di Jakarta.

Shinta menyarankan agar mereka berjumpa sekaligus makan siang di salah satu restoran cepat saji di mal dekat tempat kerjanya. Citra langsung menampik, karena pegawai di salah satu lembaga pemerintah ini dapat informasi bahwa restoran tersebut menggunakan lemak babi. Dia cukup yakin karena info ini didapat dari kakak temannya yang sedang meninjau dapur restoran tersebut untuk membeli hak waralaba. Mendengar informasi yang cukup detil ini Shinta pun manut.

Beberapa hari kemudian, Shinta menerima pesan berantai (broadcast message) yang mirip sekali dengan keterangan dari Citra. Isi pesan tersebut menyebutkan bahwa si penulis pesan mendapat informasi dari kakaknya yang ingin membeli hak waralaba restoran cepat saji tersebut namun urung. Keputusan itu lantaran kakak si penulis pesan sudah melihat langsung ke dapur restoran dan menemukan bahwa mereka menggunakan minyak babi dalam memasak.

Shinta langsung menglarifikasi ke Citra, menanyakan nama temannya dan kakak temannya yang dimaksud. Ternyata Citra juga hanya mendapatkan informasi terusan dari orang lain. Citra sendiri tidak tahu persis siapa teman dan kakak teman yang bertanggung jawab atas penyebaran informasi minyak babi itu.

Ternyata pesan berantai yang disebarkan dengan enteng ini jadi bola salju, bahkan sampai ke manajemen restoran yang dimaksud. Pihak pengelola menampik keras kabar itu dan menyatakan bahwa mereka telah menjadi korban fitnah dari persaingan bisnis.

Di zaman modern seperti sekarang ini, informasi bisa menyebar dengan cepat dalam hitungan detik. Apalagi didukung dengan pesatnya perkembangan teknologi. Kita secara tidak sadar pun ikut dalam bagian dari penyebarannya. Meneruskan informasi yang didapat dari broadcast message secara sembarangan, bisa menimbulkan masalah. Jika kita tidak hati-hati, maka informasi tersebut kita telan mentah-mentah. Kemudian pesan itu akan kita teruskan lagi ke orang lain, diteruskan lagi dan begitu seterusnya. Informasi yang salah akan terus menyebar luas. Bisa jadi, informasi yang didapat termasuk zhan (prasangka). Prasangka, jika benar maka termasuk ghibah dan jika salah maka termasuk fitnah.

β€œ…………. sedang sesungguhnya, prasangka tak memberimu sedikitpun kebenaran.” QS An Najm:28

Maka sikap skeptis sangat diperlukan bila kita mendapatkan informasi-informasi terutama yang penyebarannya via broadcast message. Sebelum meneruskan kepada orang lain, ada baiknya melakukan verifikasi terlebih dahulu kebenarannya (tabayyun).

β€œHai orang-orang beriman. Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah………” QS. Al Hujuraat:6

Oleh karena itu, sebelum membagikan atau meneruskan informasi, Sahabat Gamis Makkah perlu tanyakan beberapa hal berikut kepada diri sendiri:
1. Apakah informasi itu benar? Apakah saya telah mengkonfirmasi kebenarannya?
2. Apakah fakta atau prasangka?
3. Jika informasi merupakan fakta dan benar, apakah perlu disebar? Apakah ada orang yang merasa disakiti dengan informasi tersebut?
4. Apakah informasi itu memberi kebaikan? Atau justru menyulut permusuhan?

blog1

Sebagai muslim kita juga harus bertaqwa terhadap informasi. Jangan asal percaya dan berpikirlah seribu kali sebelum menyebarkan. Jika kita mudah menerima dan mengirim semua informasi yang kita lihat dan dengar, kita termasuk pendusta.

β€œCukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta kalau dia menceritakan semua yang dia dengar.” HR. Muslim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s